Saat Anak Memahami Makna

Si Bungsu baru saja ulang tahun yang ketujuh. Dia mendapatkan hadiah-hadiah dari bapak, ibu dan dua kakaknya. Bapak memberikan skateboard, Ibu memberikan kaos bola dan satu mainan tobot (robot-robotan kecil yang bisa berubah jadi mobil). Si Sulung sebelumnya curhat pingin kasih hadiah tobot tapi nggak punya uang. Akhirnya Ibu bungkuskan juga tobot masing-masing satu untuk diatasnamakan Kakak Sulung dan Kakak Kedua. Ternyata si Kakak Kedua (9 tahun) juga sudah membungkus beberapa bajunya sebagai hadiah ultah buat adiknya.
Saat pembukaan hadiah, si Bungsu berseru-seru gembira, karena semua itu barang kegemarannya (tak terkecuali saat membuka bungkusan berisi baju-baju bekas kakaknya).

Keesokan harinya, dalam sebuah kesempatan berduaan, si Bungsu ditanyain Bapak, hadiah ultah dari siapakah yang paling bagus?
Jawabnya, semuanya bagus, tapi yang paling bagus adalah hadiah dari Kakak Kedua. Kenapa? tanya Bapak.
“Bapak beri aku hadiah skateboard, Bapak kan punya uang. Ibu beri aku hadiah kaos bola dan tobot, Ibu juga punya uang. Mas itu Pak, nggak punya uang, tapi tetap mau beri aku hadiah, terus baju-bajunya yang diberikan padaku. Jadi hadiah dari Mas itulah yang paling bagus” jawab si Bungsu.

Maa syaaAllah, terharu aku mendengar cerita bapaknya. Betapa istimewa. Anak umur tujuh tahun, sudah bisa melihat makna, sudah bisa memahami cinta. Bukan hanya apa yang tampak mata. Bukankah secara material, apalagi di mata anak kecil, pastilah baju bekas adalah yang paling tidak menarik dibandingkan baju dan mainan baru. Tetapi bukan itu yang dia lihat. Dia bisa melihat dan menghargai cinta yang melandasinya.
Kurasa dia juga memahami bahwa Kakak Sulung pun tak kurang cinta, tapi karena berbeda jenis kelamin jadi nggak bisa ngasih baju bekasnya seperti si Kakak Kedua… 🙂 

Advertisements

Love of My Mini Me

Si Nomor Dua (9 th), anak lelakiku itu, paling menguras stok kesabaranku.
Anak ini, dalam pandanganku, paling lambat kedewasaannya, paling sumbu pendek, paling lemah pengendalian emosinya, dibanding 2 saudaranya yang lain.
Dengannyalah aku paling sering berselisih. Padahal, banyak yang mengatakan anak ini fotokopianku baik fisik, karakter, bahkan kegemaran.
“Wis kono cah kembar padu,” komentar suamiku sambil senyam senyum kalau aku sedang berselisih dengan si Nomor Dua, tentu tidak di depan si anak.
“Senengnya..lihat si kembar rukun,” kata suami kalau lihat aku sedang sayang-sayangan dengan si anak lanang.

Si Sulung pada usia yang sama dulu, atau si Bungsu pada usia yang lebih muda saat ini, jauh lebih terkendali emosinya, lebih dewasa pemikirannya.
Saking seringnya anak ini “bikin ulah”, kadang aku bertanya-tanya, sayangkah dia pada ibunya. Bagaimanakah nanti ketika dewasa, ketika urusannya sudah semakin beragam, masihkah dia mengingat ibunya.

Dan suatu hari, di sebuah akhir pekan.
Ceritanya, kakiku sakit entah kenapa, kayaknya salah posisi tidur atau gimana. Jalan agak terpincang-pincang. Kami mengunjungi sebuah tempat wisata. Di sana aku lebih banyak duduk menunggui anak-anak bermain-main.
Setiap kali aku berjalan, si Nomor Dua menuntunku, memintaku memegang tangannya dan bersandar padanya.
Pulangnya, saat masuk waktu maghrib kami berhenti di sebuah masjid. Aku menunggu di mobil saja karena lagi libur nggak sholat dan kakiku sakit dipakai jalan. Anak-anak ribut memintaku ikut turun ke masjid, bahaya di mobil sendirian kata mereka. “Nggak papaa..amaaan in syaaAllah. Kaki ibu sakit nihh..” kataku berkeras tetap menunggu di mobil. Pikirku agak geli, segede ini kok ya dikhawatirkan, ya..tapi itulah wujud sayangnya anak-anak, dengan pikiran kanak-kanak mereka. Beberapa saat kemudian, ketika sholat terdengar sudah selesai, tiba-tiba muncul wajah si Nomor Dua di balik jendela mobil. Tangannya ribut mengetuk kaca jendela, lalu masuk ke mobil.
“Mana bapak dan kakak adik?” tanyaku.
“Masih berdoa”, jawabnya.
“Lha kamu kenapa cepet-cepetan gitu?”
“Aku tu takut ibu kehabisan oksigen di dalam mobil. Jadi nggak tenang aku tadi sholatnya. Selesai sholat langsung lari ke sini” katanya.
Aku tertawa, geli sekaligus terharu.
“Aku bayangkan ibu sudah pingsan di dalam mobil” sambungnya.
Hahaha…
Sampai di rumah, sudah hampir jam 8 malam. Kaki sakit, kepala pusing, badan capek, lengkap sudah. Yang kuinginkan hanya segera mandi kilat dan berbaring nyaman di kamar.
Ada 2 kamar mandi di rumahku, di depan dan di belakang. Biasanya, anak-anak tidak ada yang mau menggunakan kamar mandi belakang, kecuali sangat terpaksa dan ditungguin di depan pintu. Takut kecoa lah, takut cicak lah, takut hantu lah. Padahal letaknya ya di dalam rumah juga, cuma berjarak palingan 5 meter dari kamar mandi depan.
Seperti biasa, rebutan kamar mandi depan. Si Bungsu dapat giliran pertama. Aku mau menggunakan kamar mandi belakang dicegah sama si Nomor Dua.
“Ibu di depan saja, aku yang belakang. Nanti kalau di belakang, ibu jatuh nggak ketahuan”, katanya
“Haha..enggaklah..mosok jatuh. Sudah Ibu di belakang saja nggak papa, kamu di depan sehabis adik”, kataku.
Tapi dia berkeras tetap mau di kamar mandi belakang. Dan menolak ditungguin.
Waduh..maasyaaAllah..speechless deh aku. Aku mengerti, ini adalah pengorbanan besar yang dilakukannya demi diriku. Melawan rasa takut untuk mandi di kamar mandi belakang.

“Terimakasih ya..atas pengorbananmu,”kataku sambil tersenyum dan memeluknya ketika dia selesai mandi.
“Ah..pengorbanan apa sih Ibu nih,” elaknya malu-malu tapi sambil tersenyum bahagia.

Ah anakku sayang. Sekarang aku yakin, betapa dalam sesungguhnya cintamu pada Ibu. Hanya saja kau belum pandai mengungkapkannya. Kau masih terus belajar untuk dewasa. Kesalahan Ibu, kadang masih ada rasa membandingkan, meski sudah kutahu perkembangan anak tak ada yang sama. Maafkan Ibu yang sering tak sabar menghadapi fase belajar dewasamu.

My Mini Me, aku sayang padamu. Dan tak lagi ada ragu, in syaaAllah hingga kelakpun kau kan selalu menyayangiku...

Menyiapkan Anak Menghadapi Dunia

“Ibu, bagaimana nanti kalau aku sudah haid? Nanti bagaimana pas di sekolah? Si A itu (teman sekolahnya-red) sukanya ngejek-ngejek..nanti dia teriak-teriak, hei kamu sudah haid yaaa?terus satu sekolahan denger semua ..gimanaa…” tanya putriku cemas, si Sulung 11 tahun yang sedang berada di ambang balighnya.
“Ya biar aja satu sekolahan tahu. Haid itu peristiwa biologi biasa, hal yang akan dialami semua wanita normal. Bukan aib bukan dosa. Justru kalau kamu haid, alhamdulillah, berarti kamu normal” jawabku.
“Tapi bagaimana kalau diejek-ejeeek..?”
“Jawab aja gini..Iya aku lagi haid, kenapa? Masalah?”
“Haha…Ibu sih gituu…enak ya kalau bisa cuek”
“Ya harus gitu. Ngapain dimasukin ati, bikin penyakit. Sampah-sampah dan racun-racun itu nggak usah dimasukkan ke hati, biar lewat aja. Kalau nasehat dan kebaikan, lha baruu..masukkan ke hati. Jangan kebalik”

Kesempatan yang lain, si Sulung mengeluhkan temannya yang reseh dan suka main perintah.
“Lha kamu suka nggak melakukan apa yang dia perintahkan?”
“Nggak, aku kan capek, lagi males main diajak main”
“Ya sudah, bilang saja, aku capek nggak mau main. Gitu. Kalau kamu nggak suka, jangan mau melakukan apa yang dia minta”
“Tapi nanti dia marah..”
“Marah biarin, kan masih ada teman yang lain”

Intinya, aku mengajarkan pada anak-anak bagaimana menghadapi dunia. (Duile.. Ya..maksudnya, karena masih kecil, dunia mereka kan lingkungan sekolah, nggak salah kan ya kalimatku..hehe..)
Kita tidak bisa mengatur bagaimana pihak luar, diri kita sendirilah yang bisa kita kendalikan. Misalnya, ketika ada teman yang mengejek anakku, aku tidak bisa serta merta memarahi si pengejek, tapi anakkulah yang kuberi perisai bagaimana menghadapinya. Tentu dalam batasan dan tahapan tertentu sesuai usia mereka dan tergantung krusialnya permasalahan. Kalau kupandang masih bisa diselesaikan anak, sebisa mungkin orang tua tak campur tangan. Sebisa mungkin mereka menyelesaikannya sendiri.
Karena orang tua tak kan selamanya bisa mendampingi anak.
Kelak ketika mereka sudah harus menghadapi dunia dewasa yang lebih kompleks, ketika masalah dengan pihak eksternal semakin beragam, ketika mereka tak lagi bisa mengadu kepada orang tua, semoga mereka siap dan kuat.

Menginap di OMAH NJONJA, Bagai di Rumah Sahabat Lama

Kami ke Yogya weekend kemarin. Mendapatkan penginapan ini di Traveloka, “Omah Njonja Bed and Brasserie”.
Beralamat di Jl. Sawitsari M-1 Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta, kami tak kesulitan menemukannya dengan bantuan Google Map.
Tiba di sini sekitar jam 14.30, disambut oleh desain bangunan bagian depan dan pintu masuk bernuansa Cina. Cantik sekali.

Scan10082

Setelah proses check in yang cepat dan mudah, kami diantar ke kamar. Dari meja resepsionis menuju kamar, disambut oleh lukisan selamat datang yang unik di dinding selasar. Sebuah pengantar cerita yang menjelaskan konsep rumah ini secara keseluruhan. Kehangatan keluarga yang ditawarkan.

WhatsApp Image 2018-10-09 at 06.28.41

Ceritanya, inilah sang nyonya rumah, Njonja Lie, yang bersama suaminya Baba Apien gemar menjamu sahabat di rumah mereka dan menyuguhinya masakan enak 🙂

Dan inilah kamarnya. Kamar nomor 9, tipe family upper deck. Unik sekali kamarnya. Tidak terlalu luas tapi terdiri dari 3 tingkat. Tingkat paling bawah adalah untuk kamar mandi (shower tanpa bathtub) dan ruang TV (berisi TV, lemari gantung untuk pakaian, bifet, cermin, meja, dan sofa lipat yang bisa di-unfold menjadi bed). Disediakan 4 botol air mineral, 2 pasang sandal kamar (sandal jepit cantik dari karet, bukan sandal kain seperti umumnya sandal hotel), teko listrik, keranjang kecil berisi sasetan teh, kopi, gula, dan sekoteng, 4 buah handuk, serta sekantong toiletries.

Dengan tangga kayu nan artistik, naik ke tingkat dua, ada 1 double bed dan meja kecil berisi pesawat telepon. Ruangan ini tepat di bawah atap, jadi langit-langitnya rendah dan miring. Rasanya seperti kamar tidur Lima Sekawan di Inggris sana, hahaha… (setidaknya begitulah yang kubayangkan ketika membaca buku petualangan Lima Sekawan).

WhatsApp Image 2018-10-09 at 06.39.23

Tangga menuju tingkat 2

WhatsApp Image 2018-10-09 at 06.39.44

Bed di tingkat 2, tepatdi bawah atap miring

WhatsApp Image 2018-10-09 at 06.39.08

TV dan perlengkapan di tingkat 1

WhatsApp Image 2018-10-09 at 06.40.03

Undak-undakan kecil ke tingkat 3

Dari tingkat 2, naik undak-undakan sedikit, ada 1 double bed lagi di tingkat 3. Juga ada 1 TV lagi di sini. Jadi kami dapat 2 TV nih.

Kamarnya asyik banget ya. Apalagi buat anak-anak. Senang sekali mereka naik turun tangga. Kayak main rumah-rumahan. Sangat nyaman dan memadai untuk 5 orang.

Selanjutnya, mari kita lihat rumah ini secara keseluruhan. Terdiri dari 15 kamar, dengan konsep yang berbeda di setiap kamarnya, terinspirasi oleh Skandinavia, Perancis, Nautica Decor, dan pedesaan (begitu kata brosurnya).

Ada lukisan-lukisan dan dekorasi unik di sepanjang dinding common space rumah ini. Desain yang bercerita, membawa kita ke suasana tempo doeloe.

WhatsApp Image 2018-10-09 at 06.29.06WhatsApp Image 2018-10-09 at 06.32.34

Sore hari, jam 16.00 sampai jam 19.00 disediakan snack sore gratis di tepi kolam renang. Teh, kopi, dan wedang secang panas, serta camilan tradisional Jawa yang bisa diambil secara prasmanan. Asyik sekali duduk-duduk di tepi kolam sambil menikmati minuman panas dan ngemil potongan jagung rebus, ketela rebus, onde-onde, kacang rebus. Benar-benar seperti sedang menginap di rumah sahabat, disuguhi dengan ramah dan hangat.

WhatsApp Image 2018-10-07 at 16.37.13WhatsApp Image 2018-10-09 at 06.35.09

Esoknya, sarapan siap jam 7 pagi di resto lantai 2. Namanya Kedai Baba Apien. Lha ini dia suaminya sang Njonja, hihi…
Mari kita lihat kedainya si Baba yang artistik ini..

WhatsApp Image 2018-10-09 at 06.31.32WhatsApp Image 2018-10-09 at 06.31.03

Sarapannya prasmanan, menu tradisional. Ada nasi, bihun goreng, capcay, gule ayam, ikan goreng tepung, bubur ayam. Makanan model barat-nya hanya roti tawar dengan selai dan meses, serta chocho crunch yang dituang susu putih. Minuman ada beras kencur, kunir asem, jus jeruk, air putih, teh dan kopi. Serta buah dan puding jahe untuk dessert-nya. Rasanya mantap semua. Memang bukan bualan, Baba Apien benar-benar pinter masak, hehe..

WhatsApp Image 2018-10-09 at 06.30.42WhatsApp Image 2018-10-09 at 06.32.02WhatsApp Image 2018-10-09 at 06.30.14

Pantas saja Omah Njonja dapat rating 9 di banyak Online Travel Agent. Memang benar-benar jempolan. Setiap sudutnya terlihat sangat terawat, tidak ada kotor, kumuh atau kusam sedikitpun, baik di kamar maupun di common space-nya. Tidak ada cat lukisan dinding yang terkelupas atau kotor sedikit misalnya, padahal ada banyak orang/tamu yang menghuninya. Benar-benar seperti dilap setiap hari di setiap bagiannya.
Dengan desain yang cantik dan unik, Omah Njonja bisa menjadi tempat wisata tersendiri. Banyak spot instagrammable untuk berfoto dengan berbagai gaya. Nyaman, bikin betah.
Para stafnya juga ramah, kompeten, cekatan dan helpful.
Harganya cukup terjangkau, untuk kamar family upperdeck, kami dapat harga Rp 522 ribu via Traveloka.

Omah Njonja, highly recommended. Aku kasih bintang 5 dan rating 10 dah! Kalau ke Yogya lagi, kita nginap di sini lagi yes.

Hati-hati Berbasa-basi

Suatu sore, di sebuah toko, ketemu teman kuliah yang walau tinggal sekota tapi sudah lama sekali tidak bersua. Aku tahu dia sudah berputra satu. Setelah saling menyapa, aku berkata, “Wah selamat, putra kedua ya?”. “Ng…aku nggak hamil kok ini..” jawabnya. Krik..krik…gara-gara basa basi sok tau, jadi nggak enak kan ya..

Suatu sabtu siang, menjemput anak yang lagi ekskul di sekolah. Seorang ustadzah menemaniku menunggu. Aku belum begitu kenal dengan beliau karena termasuk ustadzah baru. Terlihat masih muda. Setelah kehabisan bahan obrolan, aku bertanya, “Sudah berkeluarga bu?”. Perkiraanku, beliau ini seorang ibu muda, jadi pasti hepi lah ya dikira belum berkeluarga, berarti terlihat awet muda. Eh, apa jawabnya? “Pernah berkeluarga..”jawabnya sambil tersenyum. Krik..krik..gara-gara basa-basi sok tau lagi.. Aku langsung terdiam nggak nanya lebih jauh lagi..hiks..

Dua kejadian yang selalu kuingat (jangan-jangan masih banyak lagi yang sudah kulupa). Bayangin dah, yang bertanya sebenarnya hanya basa-basi, tapi bisa jadi bikin yang ditanya terluka. Bagaimana perasaanmu ketika dikira hamil padahal tidak, berarti perutmu terlihat besar kan? Duh duh duuh…itu perkara super sensi buat perempuan.
Dan bagaimana perasaanmu ketika harus menjawab status yang mungkin merupakan hal yang sangat tidak mengenakkan? “Pernah berkeluarga” kemungkinan besar artinya perceraian, karena kalau pisah mati, pasti jawabannya bukan seperti itu. Dan apapun penyebabnya, perceraian adalah luka besar, bahkan mungkin dianggap aib bagi sebagian orang.

Jadi lebih baik berhati-hati dalam berbasa-basi. Jangan menanyakan hal pribadi kecuali ditanya duluan. Kalau dia bertanya artinya siap dan tidak keberatan ditanya hal yang sama. Sebisa mungkin juga jangan mengomentari fisik kecuali komentar yang bagus. Komentar seperti “Wah..kamu tambah langsing ya..” atau “Kamu nggak berubah, awet muda aja nih..” biasanya bikin hepi. Tapi hati-hati juga sih. Ada juga orang yang sangat kurus dan malah sebel kalau dibilang langsing karena dia pingin gemuk (baca : ideal) nggak bisa-bisa. Membahas hal yang umum akan lebih aman. Tapi jangan membahas politik kalau kau belum yakin bagaimana pandangan politiknya, ntar jadinya malah berdebat. Kalau memang kehabisan bahan obrolan, lebih baik diam. Biar dia aja yang cari bahan..haha..

Dieng, Sang Negeri Di Awan

Kau mainkan untukku
Sebuah lagu
Tentang negeri di awan
Dimana kedamaian
Menjadi istananya…

Kubayangkan, di sinilah tempat yang dimaksud mas Katon dalam lagunya.
Dieng, sang permata indah, negeri di awan. Tak kusangka ada tempat seindah ini di Jawa Tengah.
Kabarnya, di penghujung musim kemarau ini Dieng sedang membeku sehingga embun pun jadi es. Foto hamparan rerumputan tertutup es putih tipis-tipis bagaikan musim salju di Eropa bertebaran di fesbuk, bikin tergoda ingin ke sana.
Jum’at malam reserve penginapan via Traveloka. Sabtu kami berangkat jam 3 pagi dari Semarang, naik mobil. Jalan santai aja. Sholat Shubuh di masjid di tepi jalan.
MELIHAT SUNRISE
Perjalanan menuju Dieng sudah menyuguhkan pemandangan indah. Menjelang matahari terbit, kami berhenti untuk menikmatinya. Entah di daerah mana ini ya. Mentari kemerahan perlahan muncul di ujung timur. Maa syaaAllah..keindahan ciptaan-Mu..


TELAGA WARNA
Tiba di Telaga Warna sekitar jam 07.30. Belum buka. Di parkiran banyak warung makan. Sarapan dulu di salah satu warung, buka bekal nasi dan lauk pauk. Pesan teh panas dan 2 mangkok indomi rebus buat tambahan aja.
Jam 8.30 masuk. Eh lumayan mahal juga tiketnya, Rp 15.000/orang untuk lokal. Untuk orang asing jauh lebih mahal, seratusan ribu.
Konon air di telaga ini bisa berubah-ubah warna. Tapi saat kami datang hanya tersaji warna hijau. Airnya terlihat hanya sedikit karena musim kemarau. Di salah satu sisinya sudah dibuat trek paving untuk jalan kaki.
Not bad.
P_20180825_075219_1_p

P_20180825_080158_p

P_20180825_080231_1_p

P_20180825_080330_p

P_20180825_080545_1_p

P_20180825_080741_p
DIENG PLATEAU THEATRE
Tiket Rp 10.000/orang. Filmnya lumayan bagus, mengenai Dieng dan kehidupannya. Menarik dan informatif. Meski film lama, jaman Gubernur Jawa Tengah masih pak Mardiyanto..haha..
Di halamannya ada spot untuk berfoto dengan membayar Rp 5.000 per orang, flying fox, dan sepeda layang.P_20180825_084639_p

P_20180825_084701_1_p

P_20180825_084716_p

P_20180825_084812_1_p

P_20180825_084848_p

P_20180825_084850_1_p
KAWAH SIKIDANG
Ada pasar di sekitar pintu masuknya. Menjual bermacam-macam makanan khas Dieng seperti aneka keripik (baik mentah maupun matang), carica dan kentang.
Tiket masuknya Rp 15.000/orang.
Memasuki pasar, bau belerang mulai tercium kuat. Semakin dekat semakin menyengat. Si Sulung nggak tahan dan langsung muntah-muntah. Jadinya aku menemaninya balik kanan deh, sementara bapak dan dua adiknya mendekat ke kawah. Aku dan si Sulung lalu menunggu di warung yang agak jauh sambil ngeteh panas.


CANDI ARJUNA
Tiketnya masih sepaket dengan tiket ke Kawah Sikidang, jadi masuk nggak bayar lagi. Jalan dari pintu gerbang ke area candi lumayan jauh, mungkin ada setengah km-an, tapi cantik dan nyaman. Sampai di area candi, hamparan rumput hijau menyambut kami. Matahari bersinar cerah tapi hawa tetap terasa dingin. Bangunan candi dilatari pemandangan pegunungan yang indah. Namun sayang saat ini candi sedang direnovasi sehingga agak mengurangi keindahan.


PENGINAPAN
Dari Candi Arjuna hari sudah siang, sudah mulai capek. Jadi kami memutuskan untuk check in di penginapan yang sudah dipesan.
Inilah penginapannya, Rp 500 ribu tarifnya. Fasilitas yang didapat adalah dua kamar tidur, ruang TV, dapur (lengkap dengan gas dan perabotan), kamar mandi dengan air panas. Tanpa sarapan ya.
Lokasi di Sikunir, dekat dengan tempat-tempat wisata yang kami kunjungi.


MUSEUM KAILASA
Setelah sholat, makan siang dan istirahat di penginapan, sore jalan lagi.
Pertama ke Museum Kailasa. Dengan tiket masuk Rp 5.000/orang, yah sepadanlah dengan performance yang seadanya, hehe.. Cuma terdiri dari 2 ruangan kecil dengan penyajian yang biasa saja. Tertolong dengan pemutaran film arkeologi selama sekitar 10 menit yang lumayan menarik, dan taman cantik di halaman belakangnya.


TELAGA MERDADA
Selanjutnya ke Telaga Merdada. Telaga ini lumayan luas. Dikelilingi pegunungan nan indah. Sayang, airnya juga tinggal sedikit karena musim kemarau. Di salah satu tepinya terlihat saluran-saluran dan pompa air. Kutanyakan pada seorang bapak di dekatnya, untuk apa itu. Katanya, itu nyedot air telaga untuk mengairi sawah.


INSIDEN MEMBAWA HIKMAH
Pagi-pagi habis subuh, niat mau lihat sunrise ke bukit Sikunir, pingin lihat juga hamparan “salju” seperti di foto-foto fesbuk itu. Sudah masuk mobil semua, mobil distater nggak bisa. Diulang-ulang beberapa kali tetap gagal. Belakangan baru tahu, ternyata itu disebabkan oleh membekunya solar di dalam tanki. Memang mobil kami berbahan bakar solar. Kalau yang bensin katanya tidak seperti itu. Menurut si bapak parkir, ternyata tipsnya itu mesin tidak boleh mati semalaman. Jam 1 malam harus dipanasin. Wuaduh, ya sudahlah, nggak tahu je, buat pelajaran. Pantesan mobil panther milik penghuni homestay sebelah tuh sejak jam 4 pagi sudah dinyalakan mesinnya. Pikirku lama amat itu mobil nggak berangkat-berangkat, haha..ternyata.
Akhirnya nggak jadi berburu sunrise, jalan-jalan (kaki) saja di sekitaran. Lumayan sih, bagus juga pemandangannya.


Si penghuni sebelah yang mobilnya juga panther itu kemudian bercerita, tadi naik ke bukit mau lihat sunrise. Pas nanjak, mesin mati. Waduh..ngeri kan yaa… Untung alhamdulillah tidak terjadi kecelakaan. Rupanya solar yang sudah mencair hanya di permukaan, jadi bisa jalan. Nah pas nanjak itu mungkin solar yang mencair sudah habis, yang di tengah masih membeku. Bayangan awamku sih gitu..bener nggak sih. Pokoknya alhamdulillah kami nggak jadi naik, haduh serem kalau kejadian mogok pas nanjak.
Sekitar jam 9, ketika matahari mulai bersinar panas, barulah mesin mobil bisa hidup. Dipanasi dulu setengah jam, terus jam 9.30 kami check out.
PERJALANAN PULANG
Pulangnya, setel google map. Eh..kok cuma 90-an km ya sampai semarang. Padahal di papan penunjuk jalan tadi, 130 km ke Semarang. Kok bisa beda 40 km-an.
Ternyata oh ternyata. Dilewatkan jalan yang tidak biasa sama mbak google-nya. Jadi nggak lewat kota Wonosobo. Kadang agak ngeri juga jalannya. Ngepas untuk simpangan dua mobil. Tapi untungnya alhamdulillah sepi, tidak banyak mobil lewat. Ya karena bukan jalan biasa itu kali ya, hehe..
Tapi bonusnya..maasyaaAllah.. Pemandangan super indah yang memanjakan mata. Tak terlukiskan oleh kata-kata..


TIPS
1. Perlengkapan kehangatan harus kumplit. Jaket tebal, kaos tangan, kaos kaki, syal dan topi wol yang bisa menutup telinga. Saat kami di situ, suhu pagi hari mencapai 6 derajat celcius.
2. Siapkan stamina untuk banyak jalan kaki karena sebagian besar wisatanya adalah wisata alam. Pakai alas kaki yang enak untuk jalan. Kalau males jalan kaki, okelah lihat-lihat pemandangan dengan naik mobil saja, tapi tentu nggak bisa masuk-masuk dengan detail.
3. Jangan dibayangkan hotel-hotel bagus di Dieng. Mungkin ada, tapi aku belum menemukannya. Kebanyakan adalah homestay sederhana.
4. Harga makanan lumayan mahal, terutama di sekitar tempat wisata, so be prepared.
5. Untuk mobil berbahan bakar solar, jangan dibiarkan mesin mati semalaman. Mesin harus dipanasi setidaknya setiap 3 jam.

Tahun Politik

Tahun ini dan setahun ke depan, adalah tahun politik. Sudah terbayang panasnya bakalan seperti 2014 lalu. Keluarga dan sahabat terbelah dalam opini yang berseberangan.
Dalam masa begini, sangat penting untuk tetap bersikap waras, wajar dan rasional.
Ingatlah selalu, dalam keadaan susahmu, keluarga dan sahabatlah yang akan senantiasa ada untukmu. Bukan mereka-mereka “junjungan”mu itu. Yang tak kaukenal kecuali hanya dari media saja. Mereka yang sebenarnya mungkin tak memperjuangkan hal ideologis apalagi agama, seperti yang kaukira. Yang mudah saja belok kiri kanan sesuai kepentingannya. Yang di bawah gontok-gontokan, yang di atas enak-enakan. Rugi banget kan yaaa
Beda kepala, wajar saja bila beda pendapat, beda penilaian bahkan untuk satu kejadian yang sama. Beda pilihan, beda kesukaan, itu juga wajar. Maka, biar suasana tetap adem, simpan saja dukungan itu untuk dirimu sendiri. Nggak usah ngajak-ngajak orang lain, apalagi kalau pakai menjelek-jelekkan pihak yang nggak disukai. Salah-salah malah bangkrut nanti di akhirat, na’udzu billaahi min dzalik. Hati-hati jaga jempol, hati-hati jaga lisan. Hindari perdebatan agar tak jatuh pada permusuhan.

Sungguh besar dosanya, orang-orang yang sengaja men-setting agar terjadi perpecahan (dari pihak manapun itu). Maka wasapadalah. Jangan sampai ikut arus, yang manapun itu. Fokus saja pada kebaikan dan amalan yang bisa dilakukan.

Sekali lagi, simpan saja dukunganmu hingga tiba di kotak suara nanti. Munajatkan saja pada Allah, mohonkan yang terbaik untuk negeri ini.

Sebuah pengingat, khususnya bagi diriku sendiri.